Kenapa
Harus Umroh?
(di sadur dari teman karib kami)
Belakangan
kemanapun gue pergi, entah itu ke Masjid Kampus tercinta, turun gunung, ke
kota, ke kampus-kampus lain atau sekedar beranjak melangkahkan kaki ini ke luar
dari kotak nyaman berukuran tiga kali empat meter sendiri atau bareng-bareng
sama fellas, selalu terbayang sebuah pertanyaan. Ada sebuah pertanyaan
yang masih terngiang-ngiang, hinggap di kepala gue seolah ada seseorang dalam
kepala gue yang yang bukan gue dan terus menekan dengan pertanyaan yang sama -lebay.
Intinya ada sebuah pertanyaan yang selama hampir 2 minggu ini belum ketemu
jawaban yang relevan, kontekstual dan ideologis (mendasar) menurut gue pribadi.
Pertanyaan
yang harusnya bukan cuma gue aja yang mikirin tapi juga anak-anak BEM yang
lain. Cukup simple namun butuh jawaban yang pas, pas karena kita sebagai
mahasiswa, pas karena kita sebagai aktivis pergerakan, pas karena kita juga
sebagai pegemban dakwah, pas juga karena kita nantinya akan jadi pemimpin masa
depan, dan harus pas karena kita sebagai penyuka kopi tanpa amPAS.. yang
terakhir intermezzo aja
Kenapa
harus Umroh? Itu pertanyaannya. Simple, gak baku (pake kenapa bukannya
mengapa), gak lumrah bagi mahasiswa, gak gaul banget, right? Yang gak setuju
silakan nambahin.
Umroh,
ide fenomenal yang tercetus dari pertemuan dengan pak karebet yang waktu
tanggal limabelas desember pagi ngasih upgrading, atau bahasa jawanya ngasih
wejangan atau bahasa jawa yang lainnya ngompori, atau bahasa tekniknya
troubleshooting atau kalo gue boleh pake bahasa sendiri tidak lain tidak bukan
garis besarnya memotivasi dan nantangin anak-anak BEM pergi ke Mekah, untuk
Umroh. Titik.
Berbekal
semangat yang didapat dari cerita pak karebet tentang LKMA-nya anak-anak SMA
Insantama Bogor yang berhasil study tour ke Malaysia. Yang kalo secara logika
anak SMA jaman sekarang hal yang lumayan berat. Karena semua biaya
keberangkatan dan lain-lainnya dikumpulkan secara mandiri tanpa ada intervensi
makhluk tercinta dan terdekatnya, ortu mereka maksudnya. Mereka bekerja secara
berjamaah dan teamwork-based. Gak banyak anak SMA yang punya kemampuan high
–kalo gue bilang- seperti mereka. Bukan cuma karena bisa ngumpulin seratus
delapan puluh juta dalam waktu satu setengah bulan aja, tapi juga bagaimana
membuat kagum para sponsorshipnya dengan menghadirkan aneka gaya dan teknik
presentasi yang menarik dan valuable.
Bahkan
ketika di Malaysia bukan hanya sekedar jalan-jalan biasa, tapi juga kembali
membuat agenda-agenda super –kata Mario teguh- yang bisa dijalani dengan
ketahanan fisik yang luar senantiasa prima. Begitu kata pak karebet.
Nah
acara LKMA insantama Bogor juga awalnya merupakan program yang sama di
gelontorkan oleh pak karebet dan Pembina insantama yang sekarang coba di
gelontorkan juga kepada pengurus BEM.
Bukan
LKMA-nya tapi jalan panjang dan proses menuju Malaysia yang menjadi pembuktian
bahwa Insantama Bogor merupakan salah satu sekolah para calon leader level
nasional. Begitupun pengurus BEM Hamfara yang diberikan sebuah tantangan yang
menantang, yakni Umroh.
Sekedar
ingin membuktikan juga kah bahwa pengurus BEM Hamfara merupakan para calon
leader level nasional? Atau hanya sekedar hasrat sekejap emosional kala pagi
yang ngantuk dan tidak adakah alasan yang lebih keren daripada sekedar
pembuktian eksistensi diri atau segala macemnya itu?
“Mereka
yang SMA aja bisa ke Malaysia, kita yang mahasiswa harusnya bisa lebih dari
itu!” apa sekedar karena tantangan begituan kita umroh?
Mari
kita menghela nafas sejenak dengan menghirup pelan lewat hidung, kemudian
keluarkan lewat mulut. Ulangi selama tiga kali. Calm down. Ghoosfraba.
Untuk
tau alasan sebenarnya gue udah coba nanyakin individu pengurus BEM satu
per satu. Diantara jawaban yang terlogis, terkeren, dan terbaik yang coba gue
kumpulin dari sebagian pengurus BEM Ikhwan, ada yang mengatakan karena umroh adalah
salah satu ibadah yang utama dan memiliki keutamaan, misalnya
“salah
satu perintah Allah SWT”
“doa-doa
yang makbul untuk dikabulkan”
“karena
sebagai penghantar haji”
“memenuhi
panggilan Allah, panggilan Allah di dunia ini ada tiga; adzan, haji &
umroh, dan mati”
“Tuntutan
ibadah”
Atau
jawaban tipikal pria idaman para mertua –mungkin- bukan karena tampangnya
karena gak ada visualisasi wajah ikhwan juga disini namun karena melihat
kata-katanya yang melankolis, agak panjang, dan –keliatannya- bijak. Misalnya
“karena kita adalah leader dan butuh
aktivitas selevel leader dan itu ada pada umroh”
“Menyelami,
(merasakan panasnya gurun pasir) perjuangan Rasul dan para Sahabat pada awal
penyebaran Islam, setidaknya dengan itu diharapkan bisa tergambar betapa
beratnya perjuangan Rasul dan para Sahabat”
“karena Haramain adalah tempat
sebaik-baiknya hijrah.. Haramain awal mula lahirnya Islam dan menyebar
ke seluruh dunia”
“karena
saya dan kita adalah para pemuda yang mencintai dan memperjuangkan Islam”
“karena
ini merupakan pembuka gerbang perubahan dan pembebasan melalui metode
Rasulullah ketika berdakwah yakni munajat do’a di tanah suci Makkah dan Madinah
secara langsung sekaligus menganalisis kondisi masyarakat intelektual arab saat
ini. Terkhusus yang terhimpun di satu Universitas”
“napak
tilas jejak dakwah Rasulullah SAW”
“saya
yakin alasannya ingin menghadap Allah, sebelumnya ke alasan, niat lebih penting
& urgent, jangan terbawa keinginan semata dan jangan karena keterpaksaan,
yang kedua Haji maupun Umroh bagi yang mampu, yang lebih mulia darpada itu
adalah sudah adanya panggilan kesana (tanah suci) oleh Allah. Ingat njeh, fa
idza ‘zzamta fatawakkal ‘alallah, laa yukallifullaha nafsan illa wus’aha”
“berdakwah
dengan amal prilaku kita lebih baik dari pada kata-kata, makanya dg umroh ini
kita buat mereka yg hanya diam dan melihat kita, tercengang menyaksikan
keberangkatan tim BEM pembebasan ke tanah suci, agar mereka sadar, &
terobsesi meniru semangat kita ! Allahu Akbar”
Atau
jawaban tipikal Mahasiswa yang BEM-minded, misalnya
“sebagai
pembeda dari beratus BEM seluruh Indonesia”
“karna
BEM kita memang layak, pantas dan pasti bisa…”
“setiap
akhir kepengurusan, BEM layak mengadakan suatu event yang besar”
Atau
jawaban penuh obsesi dengan penuh kepolosan –mungkin.
“terlepas
dari Sunnah, ini kepuasan pribadi (jujur)
menurut
pendapat gue pribadi yang tentu saja menurut gue paling logis, keren dan
memuaskan –hha, kalo ada yang gak setuju gue tunggu di perempatan,,
“untuk membuat track record yang amazing…kapan
lagi?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar